Mengapa Sulit untuk Mengubah Pola Perilaku?

0 171

Kita menampilkan perilaku dan pemecahan masalah yang terpola. Pola itu terbentuk melalui proses panjang yang rumit, terkait pembelajaran, kebiasaan, pengamatan, contoh, wawasan pengetahuan, pengolahan berpikir, value, nurani, juga karakter unik pribadi setiap orang. Ada prinsip yang jelas nampak, bahwa bila pola perilaku tersebut berhasil maka orang cenderung akan mengulanginya. Dan bila tidak berhasil maka orang akan cenderung menghindarinya.

Sejak kanak-kanak (bahkan mungkin sejak bayi) prinsip tersebut sudah nampak dan akan berakar semakin kuat ketika individu semakin dewasa.

Bila tidak ada keadaan yang mengevaluasinya, maka pola perilaku itu akan mengeras dan nyaris mustahil mengubahnya lagi.

Jadi, orang yang sejak kecil hampir selalu berhasil memperoleh keinginannya dengan menangis, maka sesudah besar ia akan meneruskan pola perilaku tersebut dengan cara yang sama.

Mungkin tidak persis dengan menangis, meraung-raung seperti anak kecil, tapi bisa dengan mengeluh, atau berwajah murung dan sedih. Orang yang lemah, yang merasa tak berdaya, dhuafa, manja, dll, rentan untuk memilih pola perilaku penyelesaian seperti ini.

Mereka yang selalu berhasil mencapai keinginannya dengan marah dan menekan orang lain, akan melakukan hal yang sama juga setiap menghadapi masalah.

Mereka yang terbiasa marah, memaksa, menggunakan kekuasaan dan kekerasan tahu betul itu. Sehingga semakin tak ada yang melawan, semakin kuat keyakinan tertanam pada mereka, bahwa marah dan kekerasan adalah cara terbaik menyelesaikan masalah.

Pola perilaku seseorang sangat bergantung seperti apa dia dididik sejak dini.
Pola perilaku seseorang sangat bergantung seperti apa dia dididik sejak dini.

Materi dan kemanjaan juga sering dijadikan jalan pintas penyelesaian masalah. Menyogok dengan hadiah, uang, makanan, kemudahan, dll. adalah cara penyelesaian yang lumayan melenakan dan membuat orang mengira bahwa itu adalah cara penyelesaian terbaik dan pasti berhasil bagi semua masalahnya.

Mereka yang bergelimang dengan harta atau sebaliknya sangat kekurangan harta sangat rentan untuk jatuh pada pola penyelesaian masalah dengan menggunakan materi.

Melarikan diri, apatis, merasa tidak ada masalah juga merupakan pola perilaku penyelesaian masalah yang umum dipilih.

Seorang ibu yang pernah saya sarankan untuk mengubah pendekatan pada anaknya, karena anaknya berperilaku buruk, berkata pada saya, “Nggak apa-apa bu, saya sih sabar, nanti pasti Allah menolong saya. Saya sering mengalami hal ini, dari kecil saya banyak masalah, tapi Allah selalu memberikan jalan penyelesaian yang tidak saya duga …”

Dari pengamatan terhadap berbagai kasus, baik klien, maupun diri saya sendiri, saya menemukan bahwa cara atau pola penyelesaian masalah yang sama, pada akhirnya memiliki “waktu expired”.

Cara itu menjadi basi pada situasi tertentu, waktu tertentu atau orang tertentu. Misalnya, ketika seorang anak selalu berhasil memperoleh keinginannya dengan menangis di rumah, ia menjadi shock dan frustrasi ketika menggunakan cara yang sama dan tidak berhasil di sekolah.

Seorang pejabat kaya yang bergelimang harta dan kemudahan, shock dan frustrasi ketika menghadapi sistem hukum yang teguh dan konsisten. Dia akan membabi buta berusaha “membeli” hukum.

Orang yang memiliki peluang besar untuk mengubah dan mengembangkan diri, adalah mereka:

1. Yang memiliki kepekaan rasa sehingga ketika nuraninya berbisik menunjukkan salah dan benar ia bisa mendengarnya.

2. Yang memiliki keterbukaan hati dan pikiran, menerima bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Bukan hanya menanggung malu menyadari kesalahannya, tapi juga menanggung malu ketika orang lain melihat kesalahannya.

3. Yang memiliki fleksibilitas untuk mengubah diri, mau belajar dari orang lain dan tekun berlatih memunculkan kemampuan penyelesaian baru. Mereka yang sering berkata, “Saya kan memang orangnya begini dari dulu” mengurangi peluangnya sendiri untuk mengubah diri.

4. Yang peduli terhadap dirinya, sehingga berusaha untuk menjaga kesehatan mental dan fisiknya. Juga peduli pada orang-orang di sekelilingnya. Dan peduli pada masa yang akan datang yaitu masa di mana setiap orang tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengubah dirinya.

Sumber Tulisan:

Yeti Widiati 050416

Loading...