Jatik.com
to Inspire. be Social.

Minuman Bersoda Bisa Bikin Gemuk/Diabet, Benar Gak Sih? Yuk, Baca Mitos atau Fakta Minuman ini Guys

0 68

Setelah olahraga keluar keringat paling enak minum yang seger-seger, seperti minuman bersoda…

ooopppppsss BERSODA????

Tidakkk itu kan bahaya..!!! Banyak gula nanti bikin diabet, karies gigi, hipertensi and many big problems lainnya..

Hi Guys… be cool..keep calm.. yuuuk kita cari tau myth and fact-nya, biar gak salah jalan dan tersesat dengan berbagai opini tentang minuman bersoda ini.

Pada 22 april 2016, mahasiswa IPB Fakultas Teknologi Pertanian ngadain yang namanya FOOD TALK WITH THE EXPERTS, salah satu bahasannya mengenai minuman karbonasi atau yang dikenal dengan soft drink.

Kenapa sih ketika capek dan badmood minuman bersoda lebih kita pilih dibanding air putih biasa???

Jadi gini lho guys ceritanya…

Ini menurut seorang akademisi lho, yang udah meneliti tentang minuman bersoda ini, bukan asal-asalan…

Dosen ilmu dan teknologi pangan IPB yang juga pakar gizi, Prof. Dr. I Made Astawan selaku pembicara dalam acara tersebut menjelaskan bahwa soft drink lebih menaikan konsumsi cairan hingga 40-50% dibandingkan minuman air putih.

Selain itu, kandungan kafein dalam soft drink dapat memberi kesan refresh bagi yang mengkonsumsinya,

…Pasti deh setelah minum soft drink mood kita jadi naik, tul gak?

Tidak perlu takut, karena zat yang namanya kafein ini juga ada dalam teh ataupun kopi.

Bahkan, kandungan caffein  minuman bersoda setengah kali lebih kecil dari teh dan seperempat kali dari kopi.

Menurut Health Canada, konsumsi kafein 400 mg/hari TIDAK memiliki efek buruk terhadap kesehatan orang dewasa, kecuali ibu hamil dan menyusui.

Menariknya lagi nih guys, terdapat sensasi letupan yang menyambut kita saat kemasan dibuka.

Sensasi unik lainnya yang membuat minuman bersoda ini lebih enak dibanding minuman lainnya adalah sensasi “krenyess” dan getar yang membuat lidah serasa digigit.

Sayangnya, sensasi  “krenyes” minuman bersoda menjadi korban GOSIP dalam bidang pangan.

mitos fakta minuman bersoda

Padahal, sensasi “krenyes”, gigit dan letupan yang membuat kita makin enjoy minum soft drink.

Seandainya ketiga sensasi itu sudah tidak ada, minum soft drink serasa minum teh biasa, bahkan rasanya lebih datar alias flat.

Hidup saja jangan dibuat flat, apalagi pangan yang jadi hidup makin hidup, setuju kan??

Buat pangan seenak mungkin biar kita bisa nikmatin rasa dan sensasi pangan tersebut. Sensasi “krenyes”  hadir dari karbondioksida atau bahasa kerennya CO2.

Sebenarnya penggunaan karbondioksida pada minuman tepatnya air suling ini sudah ada dari tahun 1770 di Inggris. Eitsss, tunggu dulu!!

Jangan salah persepsi kalau karbondioksida yang digunakan sama seperti zat pembuangan di kendaraan bermotor ya..

Gak asal karbondioksida yang dimasukkan, tetapi harus CO2 yang punya tekanan tinggi, sesuai dengan kriteria Badan pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Kenapa harus tekanan tinggi???

Supaya CO­2 terjebak  di dalam cairan dan bisa menimbulkan sensasi letupan saat kemasan dibuka.

Jadi, TIDAK semua CO2 yang ada pada minuman masuk ke lambung.

Jumlah CO2 yang diserap oleh tubuh dari soft drink relatif sangat kecil dibandingkan dengan jumlah karbondioksida yang dihasilkan secara alami oleh tubuh kita secara terus-menerus, yakni saat metabolisme karbohidrat, protein dan lemak menjadi energi.

Ketika karbondioksida bertemu air, maka terjadi reaksi kimia menghasilkan asam karbonat yang  juga sebagai antimikroba dalam minuman lhoo..

Sensasi gigit bukan berasal dari bahan tambahan lainnya, tetapi tetap berasal dari soda yang bertemu dengan rasa manis, sehingga lidah kita serasa bergetar waktu minum soft drink. Menurut JECFA, acceptable Daily in take CO2 aman untuk digunakan pada minuman.

MITOS  softdrink tidak berhenti sampai sensasi rasa yang ditimbulkan, tetapi juga ada berita mengenai  soft drink sebagai penyebab obesitas, diabet, osteoporosis, karies, hipertensi bahan sampe kanker..

Oh ya??? Benarkah itu???

Lanjut baca yuuk biar lebih jelas…

Masalah metabolisme yang tadi disebutkan, sebenarnya lebih disebabkan oleh ketidakseimbangan kalori dalam tubuh.

Jumlah energi dan gula pada minuman berkarbonasi sama dengan jus buah, hanya saja jus buah memiiki keunggulan kandungan vitamin, mineral dan serat.

Jumlah gula dalam soft drink lebih kecil daripada gula dalam susu.

Gak percaya???

Coba deh kita cek kandungan gizi pada label kemasan.

Menurut NLEA ( The Nutrition Labelling and Education Act), tahun 1990 yang masih dipakai hingga sekarang, ada empat klaim tentang kandungan energi.

  1. Pangan  free calori jika energi tiap sajinya kurang dari 5 kkal
  2. Low calorie untuk pangan yang kandungan eneginya 40 kkal atau kurang di tiap kemasannya
  3. Reduce kalori  jika pangan tersebut mengandung 25% lebih rendah dari kalori pangan sejenis
  4. Kategori terakhir adalah high calory yang energi tiap kemasannya minimal 300 kkal.

Energi  yang terkandung dalam produk pangan, sangat erat hubungannya dengan pemanis atau gula yang digunakan dalam pangan tersebut.

Yang perlu diketahui, pemanis ada dua jenis. Ada yang masuk jenis pemanis nutritif ato pemanis padat kalori.

Pemanis jenis ini dapat menaikkan kandungan energi produk yang sering digunakan sebagai pengawet dan aturan penggunaannya tidak ketat, seperti gula pasir, gula tebu bahasa kerennya sukrosa.

HFCS-55 (High Fructose Corn Syrup) juga merupakan pemanis yang umumnya digunakan dalam minuman.  Kandungan HFCS-55 sama saja dengan sukrosa, yaitu 55 % fruktosa dan 45 % glukosa, sehingga metabolismenya juga sama.

Hal ini juga didukung pernyataan dari The America Medical Association bahwa HFCS tidak lebih mudah menimbulkan obesitas dibandingkan gula tebu atau pemanis padat kalori lainnya.

Jenis pemanis kedua yaitu pemanis non-nutritif atau pemanis rendah/tanpa kalori. Pemanis ini hanya memberi rasa manis tanpa menaikan energi produk.

Tingkat kemanisan gula ini 200 hingga 600 kali gula pasir, jadi pemakaiannya sedikit saja dan harus mengikuti aturan BPOM.

Sebagai perlindungan konsumen, setiap label di kemasan pangan harus mencantumkan level aman konsumsi atau dikenal dengan nilai ADI (Accaptable Daily Intake).

Prof Made pun menambahkan bahwa Nilai ADI yang tercantum dalam kemasan lebih kecil dari Estimated Daily Intake (EDI). Nilai EDI merupakan jumlah pemanis rendah/tanpa kalori yang sesungguhnya ditambahkan dalam pangan.

Jadi, selama kita mengikuti nilai ADI maka pangan aman untuk dikonsumsi.

Minuman bersoda bikin gemuk? Fakta atau mitos ya..
Minuman bersoda bikin gemuk? Fakta atau mitos ya..

Tips jitu untuk menangkal mitos permasalahan metabolisme yang disebabkan oleh soft drink juga disampaikan dalam FREE TALK ini.

Upaya untuk mencegah obesitas salah satunya adalah hindari konsumsi soft drink berlebih dan energi yang masuk dengan yang keluar harus balance, jadi rajin olahraga juga ya..

Sebagai upaya pencegahan diabet, minuman bersoda umumnya dengan pemanis sukralosa, aspartam dan asesulfam memiliki indeks glikemik (IG) yang  rendah.

Semakin rendah nilai IG makin baik untuk penderita diabet, obesitas dan pelaku diet.

Makanan dengan indeks glikemik yang rendah mengalami pencernaan dan penyerapan yang lebih lambat sehingga peningkatan kadar glukosa dan insulin dalam darah akan terjadi secara perlahan-lahan.

Makanan dengan indeks glikemik rendah telah terbukti memperbaiki kadar glukosa dan lemak pada pasien-pasien diabetes melitus dan  memperbaiki resistensi insulin.

Selain itu, makanan dengan indeks glikemik rendah juga membantu mengontrol nafsu makan, memperlambat munculnya rasa lapar sehingga dapat membantu mengontrol berat badan.

Penyakit yang ikut terimbas gosip dari minuman berkarbonasi adalah hipertensi.

Hipertensi muncul karena berlebihannya kandungan sodium dalam darah, takaran saji sodium dalam minuman berkarbonasi termasuk kategori very low sodium, yaitu kurang dari 35 mg per sajinya.

Selain itu, ada minuman bersoda juga katanya menjadi salah satu sumber masalah pada gigi.

Agar tidak ada masalah dengan gigi, baiknya konsumsi minuman bersoda dengan sedotan dan ditutup dengan menggunakan air putih untuk kumur.

Minuman bersoda juga sering dianggap sebagai sumber fosfor  yang mengganggu rasio kalsium dan fosfor dalam tulang, sehingga timbul osteoporosis.

Padahal, jumlah posfor dalam soft drink jauh lebih rendah dari susu.

So Guys.. Jangan hanya lihat tanggal kadaluarsa produk, tetapi perhatikan juga labelnya agar jumlah konsumsi kita tidak berlebih.

Bukankah yang berlebihan itu memang tidak baik??? Yuk jadi konsumen yang cerdas. Hidup Sehat dengan “CEK KIK” yaitu Cek kemasan, cek izin edar dan cek kadaluarasa. Tidak ada PANGAN baik atau buruk, yang ada hanya DIET yang baik dan buruk.

Loading...

Berlangganan Newsletter
Berlangganan Newsletter
Daftarkan email kamu disini untuk mendapatkan info terupdate dari Jatik.com langsung ke inbox email kamu!
Kamu bisa membatalkan newsletter ini kapan pun.