Jatik.com
to Inspire. be Social.

Bunda, Ini Lho Penyebab Stress Pada Bayi dan Balita

Ada banyak faktor yang menyebabkan bayi & balita mengalami stress...

0 101

Apakah bayi dan balita mengalami stress? Tentu saja. Karena stress adalah segala sesuatu yang dipersepsikan dan dihayati sebagai beban. Baik itu nyata maupun bentukan pikiran. Apa saja sih penyebab stress pada bayi dan balita?

Stress menimbulkan reaksi fisik dan juga meningkatkan emosi serta mempengaruhi perilaku. Beberapa hal yang timbul akibat dari stress seperti:

  • Reaksi fisik misalnya, debar jantung bertambah cepat, wajah memucat, nafas tidak teratur, sesak nafas, gatal-gatal, hilang nafsu makan, sakit perut, muntah, dan lain sebagainya
  • Reaksi emosi contohnya rasa takut, cemas, marah, sedih, dan masih banyak lagi
  • Reaksi perilaku, sebagai contoh menangis, menarik diri, bersembunyi, minta digendong terus, mogok sekolah, agresi (memukul, mengamuk), berteriak, dan lain sebagainya

Berat ringannya stress pada anak, selain ditentukan pada bentuk stress itu sendiri juga ditentukan pada seberapa kuat anak bisa mengatasinya.

Oleh karena itu, ada anak yang tahan pada situasi yang bising tapi ada yang tidak. Menjadi lebih rumit ketika orangtua kurang peka dan kurang berempati terhadap stress yang dialami anaknya. Sehingga tidak menyadari bahwa anak mengalami stress atau bahkan perilaku orangtua sebetulnya menimbulkan stress pada anak.

Stress dalam jumlah tertentu memang dapat menguatkan anak. Syaratnya adalah orangtua tahu ambang batas kemampuan anak. Atau orangtua melakukan pendampingan dan mengajarkan serta mencontohkan cara mengatasi stress yang dihadapi.

Beberapa jenis penyebab stress pada bayi dan balita:

1. Stress karena lingkungan fisik

Terlalu panas, terlalu dingin, terlalu berisik, di dalam air, tempat tinggi, suara keras tiba-tiba, aroma yang terlalu tajam, silau, gelap. Level kematangan sensory cukup berpengaruh di sini.

Sehingga semakin muda anak, semakin kurang matang sensorinya maka peluang terganggu lingkungan fisik menjadi signifikan. Tantangan lebih besar juga ada pada anak-anak berkebutuhan khusus.

2. Benda, binatang atau orang asing termasuk badut, ondel-ondel.

3. Situsi dan lingkungan baru atau yang tidak menyenangkan

  • Pergi ke tempat-tempat yang baru pertama kali dikunjungi
  • Berkunjung ke dokter
  • Pergi ke sekolah atau tempat terapi yang dihayati kurang menyenangkan

4. Perubahan ritme dalam hidup

  • Kehadiran adik baru
  • Perpisahan atau perceraian orangtua
  • Pindah rumah
  • Pertama kali masuk sekolah atau Day Care
  • Pengasuh baru

5. Kejadian tidak menyenangkan

  • Perawatan kesehatan di rumah atau di rumah sakit dalam jangka waktu lama
  • Situasi belajar yang tidak menyenangkan di rumah atau di sekolah
  • Perawatan dan pengasuhan yang tidak menyenangkan (kasar, banyak hukuman, bentakan, dll) baik oleh orangtua maupun pengasuh
  • Bullying dari lingkungan

6. Kejadian luar biasa

  • Pelecehan, kekerasan, perkosaan
  • Bencana alam
  • Penculikan atau hilang di tempat keramaian
  • Kecelakaan berat
  • Menyaksikan kejadian buruk (penyiksaan, pembunuhan, kecelakaan dll).

Sebagian dari penyebab stress pada bayi dan balita tersebut di atas tidak bisa diduga datangnya. Sementara sebagian lain bisa diperkirakan. Ada juga yang bisa dihindari. Sedapat mungkin untuk yang bisa diperkirakan, orangtua bisa menyiapkan anak terlebih dahulu.

Faktor penyebab yang masih bisa dipersiapkan, misalnya terkait, datang ke tempat baru, ke dokter, kehadiran adik baru, perceraian, dan lain sebagainya.

Faktor penyebab stress pada bayi dan balita yang bisa dihindari, misalnya terkait perawatan dan pengasuhan yang tidak menyenangkan atau lingkungan tertentu.

Sementara untuk yang tidak bisa dihindari, maka orangtua perlu mengembangkan strategi stabilisasi emosinya. Misalnya dengan memeluk, mengusap, berkata lembut, dll yang intinya memberikan rasa aman dan nyaman.

Ada banyak situasi ketika anak stress, orangtua ikut stress dan panik. Sehingga tindakan yang muncul adalah menghardik, defense (membenarkan tindakannya), mengeluh, bingung dan panik. Yang semuanya kontraproduktif dengan meredanya stress pada anak.

Bagaimanapun kita sebagai orangtua terus belajar dan belajar. Mungkin kita kerap melakukan kesalahan dan lepas kendali. Itulah yang menunjukkan kita manusia biasa dan bukan malaikat. Tapi kita tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri terus-menerus.

Referensi untuk mengurangi tingkat stress pada bayi dan balita, cek disini.

Penulis: Bunda Yeti Widiati

Loading...

Sumber Yeti Widiawati
Berlangganan Newsletter
Berlangganan Newsletter
Daftarkan email kamu disini untuk mendapatkan info terupdate dari Jatik.com langsung ke inbox email kamu!
Kamu bisa membatalkan newsletter ini kapan pun.