Kisah Ibu Single Parent ini Sungguh Menginspirasi, Berjualan Roti Keliling Hingga Sukses

0 696

Bagaimanapun kondisinya, jika kita punya kemauan kerja keras yang tinggi, maka tidak ada yang tak mungkin. Seperti kisah ibu single parent ini, berkorban tenaga dan pikiran dalam membangun usaha rotinya, untuk membahagiakan ketiga anaknya.

Tahun pertama usahanya, membuat adonan roti di kamar tidur, karena rumah yang ditempati tidak memiliki dapur.

Roti-roti yang dibuat kemudian dijual di tetangga sekitar, berkeliling dari pagi hingga sore, menggunakan motor, melewati hutan.

Berawal dilakukan sendiri, dan kini sudah memiliki karyawan sendiri yang melakukan semuanya.

Seperti apa kisah lengkap perjuangan bisnis ibu single parent ini? Berikut cerita lengkapnya.

Saya seorang single parent dari 3 orang anak. Saya mengambil alih 100% tanggung jawab membesarkan anak-anak.

Empat tahun yang lalu kami benar-benar melangkah dari titik 0. Dalam kondisi terpuruk, tetapi saya tidak ada waktu untuk meratapi kondisi, karena saya punya tanggung jawab besar terhadap kebutuhan 3 anak.

Saya sempat berpikir, saya bisa mendapatkan uang lebih cepat dengan cara menjual makanan.

Karena di rumah ada oven maka saya mencoba membuat roti. Kenapa roti pilihan saya?

Karena tidak perlu modal banyak dan tidak terlalu beresiko, bisa tahan dalam beberapa hari.

Pertama kali saya buat roti di kamar tidur karena rumah yang saya tempati tidak memiliki dapur.

Berawal dari membuat adonan roti sendiri, seorang ibu single parent berhasil membangun usahanya jauh berkembang.
Berawal dari membuat adonan roti sendiri, seorang ibu single parent berhasil membangun usahanya jauh berkembang.

Malam hari menjadi tempat tidur, siang hari jadi tempat saya membuat roti. Awalnya membuat 1 kg, saya jual langsung dengan memutar ke tetangga agar langsung dapat uang, karena untuk modal lagi.

Bertambah hari, bertambah banyak roti yang saya buat. Lalu, saya mulai menitipkan roti tersebut di warung-warung.

Jam kerja saya, dari jam 6 pagi, dengan mengantarkan roti ke toko-toko hingga sampai rumah jam 10.

Sesampainya di rumah tidak istirahat lagi tapi langsung ngadon roti. Awal membuat roti tidak menggunakan mesin tapi saya nguli manual pakai tangan, heee.

Setiap hari saya nguli 15kg. Nguli sendiri, ngopen sendiri, bungkus sendiri. Pekerjaan saya selesai jm 1 siang. Setiap hari saya mandi jam 1.30.

Rutinitas ini saya jalani selama 1 tahun.

Tahun kedua, saya bisa beli mesin dan memperkerjakan 1 karyawan, tidak lama dari itu saya nambah lagi 1 karyawan. Sebelum berangkat mengantarkan roti saya menakar resep, semuanya saya persiapkan. Karyawan tinggal mencampurkannya saja.

Dua karyawan tugasnya membuat adonan sampai membentuk roti, yang manggang tetap saya.

Saya pulang mengantarkan roti jam 11.30, jam 12 saya mulai manggang plus bungkus. Tugas saya selesai jam 9 malam.

Kalau cuaca panas maupun hujan deras sekalipun saya tetap jalan terus, karena saya harus manggang roti. Ini saya lakukan selama 2,5 tahun.

Dalam waktu 2,5 tahun saya mengantarkan roti menggunakan motor pakai keranjang.

Mengantar roti pakai keranjang banyak sekali dukanya, jarak yang saya tempuh 40 km. Saya melalui jalan sepi dan hutan. Pecah ban di tengah hutan itu sudah biasa terjadi. Keranjang terlempar dari motor, itu juga biasa terjadi.

Tetapi, saya tetap maju terus, tidak pernah mundur.

Lambat laun usaha saya semakin maju, karyawan pun bertambah. Roti yang saya bawa pakai keranjang sudah tidak bisa tertampung lagi, makanya saya memutuskan membeli mobil, dari uang hasil roti.

Saya akan terus maju ke depan, dengan begitu saya bisa menyerap tenaga kerja. Semoga niat yang baik akan membawa berkah untuk banyak orang. Amiiin.

Dengan cerita perjalanan usaha saya ini bisa menjadi inpirasi kita semua.

Seperti diceritakan oleh seorang Ibu single parent, Any Farida dengan beberapa perubahan redaksional.

Loading...